Kurastoren.com – Cara Menulis Artikel : Peran Menulis dalam Membentuk Cara Berpikir – Di era sosial media dan berbagai macam platform yang menyediakan kemudahan untuk mengupload video dan posting gambar mungkin masih banyak yang bertanya apakah menulis atau menulis buku lebih spesifiknya masih di perlukan? Untuk menemukan jawaban ini kurastoren akan menuliskan beberapa poin penting yang kami kutip dari channel MALAKA dengan nara sumber DEA ANUGERAH.

Menulis Adalah Sebuah Proses Bukan Lagi Sebuah Format
Menulis sudah lama dikenal sebagai Terapeutik. Terapeutik berkaitan dengan terapi,penyembuhan atau pengobatan untuk fisik dan psikologis. Karena dengan menulis sebenarnya kita sedang memetakan ulang hal-hal yang sedang terjadi dengan kita. Mulai dari apa yang sedang kita pikirkan dan apa yang sedang kita rasakan.Kalau kita tidak mencatat hal itu maka seringkali bercampur menjadi satu, sehingga semua perasaan sepertinya sedang tabrak-tabrakan dan overwhelmed dengan segala sesuatu.
Namun begitu kita menuliskan perasaan kita, maka kita harus melakukan break-down satu persatu apa masalahnya, darimana datangnya sehingga memudahkan kita untuk mencerna dan memahami hal-hal yang terjadi pada kita. Dea Anugerah melihat menulis itu lebih ke sebuah proses daripada sebuah format. Karena pada zaman dahulu hanya ada format menulis, sedangkan sekarang ada berbagai macam format yang tersedia seperti video, audio, podcast, gambar, animasi dan berbagai macam format untuk menyampaikan informasi.
1. Menulis Dapat Membantu Meningkatkan Akurasi
Namun kalau kita melihat menulis sebagai sebuah proses maka dia tidak bisa tergantikan. Ketika orang ingin membuat video yang bagus dia harus nulis dulu, ketika seseorang ingin menyampaikan materi komedinya atau stand up comedy dia harus nulis dulu kalau mau hasil yang bagus. Karena menulis itu spesifik yang memberikan kita ruang untuk mengolah kembali gagasan kita, menyusun ulang apa yang kita pikirkan dalam cara yang paling akurat.
Kesalahan yang sering salah dipahami oleh orang lain bahwa menulis itu adalah mengeluarkan kata-kata yang tidak dipahami oleh orang lain supaya terlihat kosa katanya banyak. Padahal yang harus dilakukan dalam seni penulisan adalah menyusun pikiran kita menjadi kata-kata seakurat mungkin. Karena kata-kata itu punya nuansa yang dapat memberikan arti berbeda. Contoh kata sedih dan murung. Sehingga proses menulis itu dapat meningkatkan akurasi terhadap pikiran kita. Ketika kita sudah terbiasa akurat dalam menuangkan pikiran kita dan memproses apa yang kita alami. Sehingga hasil akhirnya ketika kita mencoba berkomunikasi dengan orang lain akan lebih mudah juga menjadi akurat.
Akurasi itu sangat diperlukan karena ketika tones-nya berbeda dan salah sedikit maka perasaan yang akan muncul juga berbeda dari apa yang kita inginkan. Sehingga sering terjadi kesalahpahaman. Orang merasa marah, tidak sedang di ajak berdiskusi, merasa digurui sehingga dengan banyak menulis dan membuat kita semakin akurat dapat menghindarkan kita dari berbagai masalah yang seharunya dapat kita cegah atau hindari.
Dan proses menulis adalah sebuah proses latihan untuk menjadi orang yang lebih akurat seperti yang kita inginkan.
2. Menulis dapat memetakan sejauh Mana Pikiran Kita Berkembang
Banyak kita dapati ketika kita menulis dengan meletakan hari, tanggal, bulan dan tahun pada setiap tulisan kita maka kita dapat mengukur kembali hal-hal yang telah kita pikirkan sejak lama. Karena dengan semakin kita mendalami bidang yang sedang kita tulis kita akan merasakan hal-hal baru dan kemahiran yang sebelumnya tidak pernah kita dapatkan. Kebanyakan orang memulasi proses menulis mereka dari mencatat perasaan yaitu jurnaling, menulis dairy dan dua hal ini bagus untuk membiasakan kita untuk praktik menulis apa yang kita pikirkan.
Namun menurut Dea Anugerah selain dua hal tersebut, ada banyak hal lain yang dapat kita lakukan dengan menulis. Contoh lain ketika kita baru membaca buku atau selesai menonton film kita bisa mencoba melakukan analisis dalam bentuk tulisan. Karena menulis punya keunggulan sendiri dibandingkan format lain yang kita gunakan yaitu dia tidak punya batas waktu.
Menulis Tidak memiliki batas waktu. Jika kita ingin mengerjakanya selama mungkin itu bisa. Bisa dengan mencari refrensi dulu, tulisan kita tetap ada di tempatnya menunggu kita menyempurnakan. Berbeda dengan format video, ketika kita berbicara depan kamera dan lupa maka kita harus ulang dari awal. Tulisan itu menunggu kita sampai kapan-pun. Masih bisa kita ulang, tambahkan, selipkan informasi baru, kita tambahkan refrensi baru membuat proses berlatih untuk mencari kedalaman selain akurasi.
Ketika kita melihat sebuah isu seperti banjir di aceh. Mungkin respond pertama kita adalah “Sudah tahu itu wilayah rawan banjir dan bencana kenapa masih tinggal disana”. Ini respond jika kita menggunakan format video. Kita perlu respond cepat. Namun dengan format menulis kita jadi punya lebih banyak waktu untuk memeriksa perpektif kita apakah sudah benar atau belum. Kita bisa memeriksa catatan sejarah dari masa lalu seperti sejak kapan banjir terjadi di aceh. Kita bisa memerika tutupan hutan dan segala macam hal karena kita punya banyak waktu. Kita punya seluruh waktu hidup kita untuk melengkapi perfektif kita. Sehingga kita tidak tergesa-gesa untuk menarik kesimpulan tentang fenomena apa yang sedang kita hadapi. Ini juga merupakan ke istimewaan menulis.
Meski kita menyukai video ataupun audio, namun praktik ini tetap harus diteruskan karena dia menyiapkan kita untuk memaksimalkan apa yang ingin kita sampaikan.
3. Apa Urgensi yang menyebabkan kita harus menulis
Banyak dari kita belum menemukan urgensi menulis meskipun sudah sekolah ataupun kuliah. Hal ini dimulai dari budaya kita selama sekolah dan kuliah. Kita diwajibkan untuk menulis namun tidak dengan alasan yang benar. Guru dan dosen ketika kita bimbingan tulisan dan skripsi mereka selalu mengurusi hal-hal teknis seperti margin, rata kiri dan kanan , ukuran huruf dan tidak memeriksa kualitas tulisan tersebut. Hal-hal tersebut berbeda dengan yang kita temukan di kampus-kampus barat yang sangat panjang perjalannya. Mereka sangat menulis selama berkuliah.
Tugas-tugas mereka itu adalah esai. Karena esai itu adalah sebuah format tulisan dimana kita harus menjelaskan argumen kita. Kita menjelaskan pikiran kita. Esai seperti sebuah percobaan untuk mengetes satu gagasan. Dan esai pada umumnya adalah berisi tulisan atau gagasan yang belum selesai. Dia meletakan esainya nanti agar dibaca orang untuk dapat masukan dan itu sebuah tradisi penulisan esai. Sehingga ketika mahasiswa sudah menulis esai dia bisa memperdebatkanya dengan dosenya. Dosen memiliki tugas untuk melakukan challange pada gagasan dia. Begitu juga mahasiswa bisa membaca tulisan dosen dan mendebatnya. Darisanalah tradisi dan pikiran brilian itu muncul.
Sedangkan praktik di pendidikan kita itu, hanya di suruh menulis kutipan dan dengan segala tetek bengek tulisan itu. Sehingga wajar kita tidak punya urgensi dan manfaatnya. Karena menurut Dea Anugerah karena tidak diajarkan dengan cara yang benar dan alasan yang benar. Namun kita tetap harus melakukan itu karena kita punya skill itu untuk diri sendiri meski di kampus hanya formalitas.
Karena terbiasa menulis itu akan terpakai disemua profesi. Seorang dokter yang terbiasa menulis akan mudah menyampaikan diagnosis ke pasien. Dia akan bisa menjelaskan asal usul penyakit, dampaknya apa, apa tritment yang harus dilakukan sambil memilih kata-kata yang akurat untuk meredakan kepanikan pasien. Dokter yang tidak pernah menulis, tidak pernah merasakan kerumitan dan kedalaman akan menjadi dokter seperti di sinetron “Mohon maaf kami sudah berusaha”.
4. Menulis Juga Bisa Digunakan Untuk Parenting
Ketika kita punya anak yang memiliki pertanyaan maka akan sangat menutup literasi mereka jika kita tidak mampu menjawab atau malah memberikan jawaban yang tidak sesuai. Misal Anak Anda bertanya tentang hujan? Jawaban yang salah adalah ketika kita hanya bisa turun dari atas. Namun ketika kita bisa menjelaskan proses terjadinya hujan dengan bahasa yang mudah mereka terima itulah yang menjadikan parenting berhasil. Kita harus mengerti konsep yang benar kemudian kita jelaskan dengan bahasa-bahasa sederhana.
Ini yang tejadi dengan orang tua Indonesia. Ketika mereka kehilangan akurasi tidak bisa menjelaskan pikiran mereka dan perasaan mereka kepada anak maka mereka kebanyakan mukul, membentak bentuk komunikasinya. Kurang kosa kata, kurang tau cara menyampaikan hal-hal yang sulit.
5. Problem Dengan Quotes
Ada kesalahan kita dengan kata-kata atau Quotes. Orang akan lebih cepat percaya ketika kata-kata itu di jadikan Qoutes. Padahal Pada kenyataan kita perlu untuk melakukan cek ulang kebenarnya. Karena setiap Qoutes itu punya konteksnya masing-masing.

Penulis merupakan spesialis jasa kuras toren, cuci toren air, pemasangan toren air, dan pembuatan menara toren beton. Konten yang ditulis berbasis pengalaman lapangan dan bertujuan memberikan edukasi serta solusi terbaik terkait pengelolaan air bersih untuk rumah, kantor, dan bangunan komersial.
Penulis adalah praktisi di bidang perawatan toren air, pemasangan tandon, dan solusi air bersih rumah & gedung. Berpengalaman menangani berbagai kebutuhan kuras toren, instalasi toren air, serta perawatan sistem air agar tetap higienis, aman, dan sesuai standar kesehatan.
